Board Game 'Memburu I-Tsing' Ajak Generasi Muda Kenali Sejarah Candi Muaro Jambi
Jambi - Sejarah Candi Muaro Jambi dikemas dengan cara yang berbeda melalui board game bertajuk "Memburu I-Tsing". Permainan ini menggabungkan unsur sejarah, budaya, edukasi, deduksi, dan strategi untuk mengajak pemain mengenal sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya lokal.
Board game tersebut dikembangkan oleh Wahyu Hidayat, seorang kreator dan pengembang board game yang berfokus pada eksplorasi narasi sejarah, budaya, dan edukasi interaktif.
Menurut Wahyu, membuat board game bertema sejarah bukan sekadar memindahkan informasi dari buku teks ke dalam permainan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat situs sejarah terasa hidup, relevan, dan mampu mendorong pemain untuk memiliki kepedulian terhadap warisan budaya.
"Ini merupakan proyek board game bertema sejarah pertama yang saya buat. Tantangannya adalah bagaimana membuat situs sejarah tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi bisa terasa hidup melalui mekanisme permainan," ujar Wahyu dalam penjelasan mengenai proyeknya.
Meski menggunakan nama I-Tsing, tokoh peziarah asal Tiongkok tersebut bukan menjadi fokus utama permainan. Sosok I-Tsing digunakan sebagai narasi pembuka atau hook untuk membangun rasa penasaran pemain terhadap sejarah kawasan Muaro Jambi.
Cerita utama dalam permainan justru berfokus pada eksplorasi sejarah kompleks Candi Muaro Jambi serta misi menyelamatkan artefak kuno dari ancaman kerusakan dan hilangnya jejak peradaban.
Berawal dari Ekspedisi ke Candi Muaro Jambi
Ide pembuatan board game ini berawal dari ekspedisi riset langsung Wahyu ke kawasan Candi Muaro Jambi.
Pengalaman berada di tengah kompleks percandian tersebut memberikan perspektif baru mengenai besarnya kekayaan sejarah yang tersimpan di kawasan tersebut. Berbagai peninggalan dan artefak yang ada kemudian menjadi inspirasi untuk menghadirkan permainan yang menempatkan pemain sebagai bagian dari upaya penyelamatan sejarah.
"Ketika melihat langsung situsnya, muncul kesadaran bahwa warisan leluhur kita menyimpan begitu banyak artefak berharga yang perlu diapresiasi dan diselamatkan," jelasnya.
Pengalaman lapangan itu kemudian diterjemahkan ke dalam konsep permainan yang memungkinkan pemain mengeksplorasi kawasan, mempelajari sejarah, menemukan artefak, dan mengambil keputusan strategis sebelum waktu permainan berakhir.
Tiga Karakter dengan Keahlian Berbeda
Dalam permainan "Memburu I-Tsing", pemain bekerja sama melalui mekanisme deduksi dan strategi. Terdapat tiga karakter utama yang memiliki kemampuan berbeda.
Dewo berperan sebagai penjelajah tangguh yang memiliki kemampuan dalam melakukan eksplorasi. Kemudian ada Rio, seorang fotografer yang bertugas mendokumentasikan situs dan berbagai temuan di dalam permainan.
Sementara Clara merupakan karakter yang digambarkan sebagai jurnalis ahli. Ia berperan dalam mengungkap fakta dan informasi mengenai artefak yang ditemukan.
Ketiga karakter tersebut harus bekerja sama menjelajahi reruntuhan, mengenali lapisan sejarah Candi Muaro Jambi, menemukan berbagai petunjuk, serta mengamankan artefak sebelum waktu permainan habis.
Konsep tersebut membuat unsur edukasi tidak disampaikan secara konvensional. Pemain memperoleh informasi sejarah sembari menjalankan misi dan mengambil keputusan dalam permainan.
Padukan Sejarah dengan Teknologi 3D Printing
Tidak hanya dari sisi konsep permainan, unsur teknologi juga digunakan dalam proses produksi "Memburu I-Tsing".
Untuk menghadirkan pengalaman bermain yang lebih imersif, Wahyu memanfaatkan teknologi 3D printing untuk membuat bidak karakter dengan bentuk yang lebih presisi.
Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya memadukan warisan budaya masa lalu dengan teknologi modern.
Melalui pendekatan itu, permainan tidak hanya ditujukan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media alternatif untuk memperkenalkan sejarah kepada masyarakat, khususnya generasi yang lebih dekat dengan pengalaman visual dan interaktif.
Wahyu berharap "Memburu I-Tsing" dapat menjadi salah satu cara baru dalam memperkenalkan Candi Muaro Jambi kepada masyarakat.
"Harapannya, pemain tidak hanya bermain, tetapi juga mengenali, mempelajari, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap situs sejarah Muaro Jambi," katanya.
Menurutnya, sejarah tidak cukup hanya disimpan sebagai cerita masa lalu. Warisan tersebut perlu dipahami dan dijaga agar tetap memiliki makna bagi generasi berikutnya.
"Masa lalu bukan untuk diburu dan dilupakan, melainkan untuk dipelajari dan diselamatkan demi masa depan."
Tidak ada komentar
Posting Komentar